Cerita dari Soreang

Sore ini saya baru pulang dari Soreang, sebuah kawasan di luar Kota Bandung. Saya sendiri tidak tahu ia terletak di bagian Utara, Selatan, Barat atau Timur Bandung.. Hehe… :) Pokoknya untuk menuju ke sana saya harus melalui Pasteur kemudian masuk ke tol Kopo dan menyusuri jalan raya entah apa namanya sampai saya menemukan papan nama jalan yang berbunyi “Jl. Raya Soreang”. Hehe, saya memang tidak begitu memperhatikan jalan tadi karena selama di mobil saya sibuk menghitung uang… haha…

Jadi begini, saya bersama teman-teman TERRA hari ini mengadakan bakti sosial ke Soreang, tepatnya di Desa Kramat Mulya. Dan dalam kepanitiaan baksos ini saya menjadi bendahara a.k.a tukang ngitung, nyimpen, dan ngeluarin duit. Haha… uang yang saya hitung bervariasi dari pecahan 100 rupiah sampai 100 ribu Rupiah. Kumplit daaahhh!! Untung ada teman yang membantu saya menghitung dan mengelompokkan uang-uang beraneka jenis itu…

 Sebenarnya hari ini adalah bagian kedua dari acara baksos kami. Hari Kamis kemarin kami mengadakan aksi donor darah di kampus (di selasar gedung program studi kami tepatnya) dan syukurlah animo masyarakat kampus cukup baik dalam menanggapi acara ini.  :)

Oke, kembali ke Desa Kramat Mulya. seperti sudah dibilang tadi, desa ini terletak di Soreang yang ternyata (saya baru tahu lo!) adalah ibu kota dari Kabupaten Bandung. Jadi di Soreang inilah terletak gedung-gedung pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, termasuk gedung DPRD-nya. Desa ini sendiri menurut info dari Pak Kades hanya berjarak 500 meter dari pusat kota. Hmm.. Soreang didominasi oleh persawahan, maklum menurut Pak Kades lagi 60% penduduknya adalah petani, sementara 35% lainnya adalah wiraswasta yang bergerak di bidang konveksi (ternyata, saya baru tahu lagi, kalau Soreang adalah sentra industri konveksi) sementara 5% lainnya adalah pegawai swasta dan pegawai negeri.

Diatas adalah salah satu lanskap Soreang yang tertangkap oleh kamera ponsel saya ketika sedang diboceng seorang teman dia atas sepeda motor. Kotanya kecil, sepanjang Jalan terlihat sepi-sepi saja… keramaian baru terlihat kala saya memasuki kawasan pasar. Haha, sama saja ramainya dengan pasar Simpang Dago…

Nah, akhirnya sampailah saya dan teman-teman di rumah Pak Kades, tempat kami memusatkan kegiatan baksos kami. Wah ketika tiba di sana acara sudah berlangsung… pengobatan gratis sudah di mulai, dan warga juga sudah berdatangan.. hari ini baksos kami memang dibagi menjadi 3 acara utama yaitu pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan dan pembagian sembako. Nah, saya tadi sempat duduk dan bertugas di meja pendaftaran. Ada hal lucu… tadi saya sempat ’sotoy’ a.k.a sok tahu berkomunikasi dengan warga yang mendaftar memakai bahasa Sunda… hihi, saya kan cuma menggunakan bahasa sunda standar, maksudnya mau membaur gitu… nah ada seorang ibu yang datang mendaftar, terus saya bilang…

“Mangga, Bu. Saha namina??”  (Silahkan, bu. siapa namanya?) si ibu kemudian menjawab. terus saya tanya lagi, ” Alamatna, bu? Dimana bumina?”  (alamatnya , bu. rumahnya di mana?) si ibu menjawab lagi… kemudian si ibu sepertinya merasa saya bisa bahasa sunda, kemudian ia menjelaskan sesuatu panjang lebar dalam bahasa sunda super cepat yang tidak saya mengerti tentunya, haha… alhasil saya malah bengong dan bertanya pada Ibu itu dengan bahasa Indonesia ” Iya, bu. ada apa?”. haha… ibu itu senyam-senyum dan akhirnya membalas saya dengan bahasa Indonesia.

Terus ketika saya bertugas di meja pendaftaran saya juga berkenalan dengan 3 anak lucu ini…

namanya (ki-ka) neng a.k.a Nuri, Hani dan Shilmi. Hihi lucu-lucu banget kan?? aduh saya suka banget foto ini.. senyum mereka itu! wah lebih indah lagi kalau melihat langsung… ketika di foto mereka bertiga sedang tertawa dengan lepasnya.. sepertinya kegirangan ketika saya ajak berfoto… ketika saya tanya2 sih mereka tidak ngomong apa-apa.. hanya tertawa kemudian berlari ke sana kemari.. haha, menggemaskan sekali… saya memang suka melihat anak-anak… dan senangnya bisa bertemu mereka hari ini.

Ketika melihat keadaan desa ini saya merasa memang warga patut diberi penyuluhan tentang kebersihan..

lihat deh gambar di atas. Did you know?? itu adalah sumur dan kamar mandi warga… hmmpphh… kamar mandi itu terbuka, air di dalam sumur pun coklat secoklat-coklatnya… kalau menurut saya sih, tidak pantas disebut kamar mandi… Bu Dokternya sendiri bilang kalau kebersihan di desa ini menyedihkan. Warga tidak (maaf) cebok setelah selesai buang air. Bahkan, beberapa diantara mereka ada yang buang air di parit-parit depan rumah mereka. Tadi di sana sempat hujan, terbayangkah ketika parit-parit itu meluap?? :(    

Kalau melihat hal-hal semacam ini, saya jadi ingat pesan Ayah saya…

Hidup itu, jangan melulu melihat ke atas… sekali waktu tengoklah juga ke bawah.

betulan deh, saya merasa bersyukur sekali dengan apa yang saya miliki sekarang, apalagi setelah melihat kondisi sesama saya manusia yang harus hidup dengan kondisi demikian… melihat ke bawah memang selalu membuat kita sadar diri…

Saya banyak punya pengalaman hari ini… tadi saya juga sempat mengantar pulang seorang warga ke rumahnya, seorang nenek berusia 102 tahun! wow, saya terkejut ketika tahu usianya! ia datang ke pengobatan gratis ditemani seorang cucunya… saya pun mengobrol dengan teteh sang cucu ini. menurut si teteh, neneknya punya 8 orang anak, sebenarnya beliau 16 kali mengandung, tapi setengahnya keguguran. ketika saya tanya berapa jumlah cucunya si teteh bilang “wah, itu mah ngga keitung teh?” walahh… wajar sihh. Awalnya si nenek merasa tidak enak saya antar dan bilang sebaiknya saya mengantar sampai ke gapura depan gang kampung mereka saja, tapi saya memaksa dan si teteh juga bilang “sok atuh teh, main ke rumah, kami membuat tempe, lo di rumah”. wah saya tambah penasaran… berjalan di gang kampung Cebek membuka pikiran saya, memberi saya alasan konkrit kenapa tempat ini patut dibantu. Melihat kehidupan yang penuh kesederhanaan itu membuat saya kembali lagi menngingat pesan Ayah. Sesampainya di rumah si nenek, saya ditawari minum, bahkan saya sempat ditawari untuk digorengkan tempe… aahh baik sekali! Tapi, saya menolak dengan alasan ingin kembali ke venue untuk membantu teman-teman dan memang tidak ingin merepotkan. Luar biasa! di tengah kesederhanaan, mereka dengan hati terbuka hendak menjamu tamunya… saya pun pulang dari rumah nenek dengan iringan doa darinya… Amin.

Acara baksos kami selesai. Sekitar pukul 3.15 saya dan teman-teman kembali ke Bandung dan dalam perjalanan pulang inilah kami memuaskan rasa penasaran kami akan: JERUK BALI!

jadi sewaktu kami menuju Soreang pada pagi harinya.. kami melihat pedagang jeruk Bali sudah berjejer di sepanjang jalan. tapi karena dikejar waktu, tidak memungkinkan untuk mampir.. akhirnya sore harinya kami mampir juga… hihi, siapa yang tidak tergiur… daging buahnya merah menggoda seperti itu… setelah tawar-menawar dengan penjual akhirnya kami bawa pulang jeruk itu dengan harga Rp 8000 per buah.. hmmm maknyusss… masing-masing kami membeli 1 buah. bahkan si penjual memberi gratis tester yang nampak di atas itu.. hihi… senangnyaaa… akhirnya kenyanglah kami berdelapan di mobil!

saya sendiri melahap jeruk bali itu dengan teman-teman sekosan segera setelah sampai di rumah… hmmm, manisnya jeruk bali mengakhiri cerita manis saya dari Soreang hari ini…

Ingin ke sana lagi, ingin berbagi lagi!

Tschuss! :)

~ by Christine Kaharmen on April 5, 2008.

6 Responses to “Cerita dari Soreang”

  1. FYI…. Soreang tuh di Bandung Selatan, khan dah jelas banget ngelewatin Tol Kopo yang lokasinya di Selatan Bandung.

    Yang nyobain Bahasa Sunda,,,,,,,, keep on doing that………. Aku juga sering kok, malah karena saking sok tahunya sering salah jawab… Pernah ditanyain sama anak kecil pas di Tasik, he asked “Ti marana ieu teh?? (Dari mana???)” Aku yang gak begitu denger dia ngomong apa langsung jawab “Ohh.. Muhun..” (Oh iya), hehehe. Tapi at least I’ve learned and tried to communicate with Sundanese.

    Overallll…. Aku ngiri banget sama kalian yg bisa ikutan. Honestly, this is the best event selama ada di TERRA so far, it’s much better and useful than those “hura-hura” events we often made.

    Thanks for the sharing which makes me feel there.

    siip man.. haha iya yah di Bandung Selatan, bisa gak kepikiran gitu… :-p ok..ok.. well, next time emang kita mesti WAJIB ngadain acara kaya gini lagi… sangat membuka pikiran kalau menurutku… Danke fur sein Kommentar!

  2. Jadi inget wc Pak Kades yg ga punya pintu… hiii, sedih betul ya, Tine…

    yoi, hihi, heran juga.. udah bagus tuh toilet di dalem rumah, tapi kenapa musti gak ada kunci begitu… apa yang musti diubah ya? paradigma?

  3. [...] terlalu banyak cuap2 nih.. hehe… Lebih jelas tentang kegiatan baksos kami, bisa dilihat di blognya Christine. Ada foto2 lucunya juga… [...]

  4. Haha..lucu juga ya, hari itu, ntine…
    Inget gak apa yang kita omongin di mobil Gilang? Tentang “tetangga-tetangga” kita n mimpi-mimpi itu..

    Apa sih..

    haha.. emang kita cewek… hihi ada2 aja kan mimpinya… tapi sapa tau jadi kenyataan… wakaka… thx udah mampir… :)

  5. wuyyy.,.,.,.,.,
    soreang tempat orang2 berbakat cantik,n keren
    jangan melihat soreng hanya sepintas dan satu desa aja lihat lebih dekat ntar kalian akan banayak melihata keajaiban disana ,.,.,
    trust me.,.,.,.

  6. wach..abdee urang soreang asli uy
    heheheheehehe…..

Leave a Reply