A Little Blast from the Past
Semuanya berawal dari sebuah percakapan di Yahoo! Messenger antara saya dan teman SMA saya. Setelah percakapan cukup panjang tiba-tiba dialog menjadi demikian…
A (Si Teman) : Lo pernah denger “Schindler”??
B (Saya) : Pernah lah… film Schindler’s List yang gue tau… kenapa emangnya
A: Iya, gue baru nonton filmnya…
B: Hoo, gw dah nonton itu dari kelas 1 smp..
A: Hebat tuh orang.
B: Emang, Oskar Schindler bukan siy namanyaa??
A: Iya bener.
B: Hooo, masi inget juga gw namanya diaaa..
Yah.. yah.. dan kemudian percakapan beralih dari topik Schindler ke topik lainnya. Dan… terimakasih kepada Teman saya itu karena hari Sabtu kemarin saya kembali menonton Schindler’s List untuk ketiga kalinya. Pada kali ini pula saya baru merasa menonton film ini dengan sesungguhnya dengan pemahaman pribadi saya.
Kali pertama menonton, ya itu, waktu kelas 1 SMP. Saya menonton dengan Papa. Beliau mengajak saya nonton film itu karena katanya, “Ini bagus, cerita tentang pembantaian Yahudi oleh NAZI. Tahu kan? Hittler??”. Saat itu saya nonton sambil lalu-lalang, bolak-balik kamar, dan akhirnya berlalu sama sekali dari depan layar TV. Kesan pertama: yahh, saya tahu judul filmnya, tapi jalan ceritanya gak nangkep sama sekali tuhh…
Kali kedua. Kelas 2 SMA. Lagi libur, iseng di rumah sendirian. Saya bongkar-bongkar koleksi VCD Papa yang sudah lama tersimpan tak tersentuh di lemari di bawah televisi. Ketemu deh VCD yang saya cuekin waktu saya kelas 1 SMP. Aah, mau nonton lagi aaahh.. pikir saya saat itu. Saya putar, saya tonton… dan saya ketiduran… Cerdaas! Batal lagi nonton. Kesan kedua: saya tahu pemeran utama di film itu namanya siapa, tapi tetep cerita gak nangkep.
Kali ketiga yahhh, Sabtu minggu kemarin, 7 Juni 2008. Saya memang sudah masuk minggu liburan sekarang. Masih memutuskan untuk tinggal di Bandung karena mengingat nilai-nilai akan keluar (seharusnya) paling lambat tanggal 12 Juni. Untuk mengisi waktu kosong akhirnya saya memutuskan untuk melakukan movie-marathon. Saya mulai Sabtu kemarin setelah melalui ujian Jerman yang begitu suliitnyaaaa! Tadinya hanya berencana menonton 2 film saja. Hari pertama itu saya berencana menonton film P.S. I Love You dan Stardust. Setelah selesai dengan Stardust, ternyata saya belum mengantuk… Padahal sudah pukul 2 dinihari! Waw! Ketika mengembalikan DVD-DVD itu ke tempatnya mendaratlah pandangan saya pada DVD Schindler’s List yang saya beli lebih kurang 2 bulan lalu. Teringat obrolan dengan si Teman SMA, jadilah akhirnya saya memutar film itu untuk kali ketiga dalam hidup saya.
Saya menontonnya sampai habis. Dan saya menangis.
Seperti saya katakan, di kali ketiga inilah kali pertama saya menyaksikan Schindler’s List dengan pemahaman pribadi saya. Kali inilah saya baru merasakan betapa dahsyatnya film besutan Steven Spielberg ini.
Schindler’s List. Pada intinya adalah sebuah rangkaian cerita tentang bagaimana perbuatan satu orang bisa berdampak begitu hebatnya. Schindler membuat sebuah daftar, sebuah daftar nama, yang menyelamatkan nayawa ribuan orang Yahudi yang saat itu tengah terancam oleh kejamnya pembunuhan massal yang dilakukan oleh NAZI.
Untuk cerita lengkap dan detail lainnya silahkan menonton film ini. Lewat tulisan ini saya ingin berbagi cerita mengenai beberapa bagian film yang menyentuh saya.
The Girl in the Red Coat
Bagi saya visualisasi ini begitu mengena. Saya mengutip dari Wikipedia tentang Gadis Bermantel Merah ini…
Though the film is primarily shot in black-and-white, red is used to distinguish a little girl in a coat. Later in the film, she is seen dead. This character is based on Roma Ligocka, who was well known in the Warsaw Ghetto for her red coat. Ligocka in fact survived the Holocaust and, after the film was released, published a novel in 2000 entitled The Girl in the Red Coat: A Memoir.[12]
According to Andy Patrizio of IGN, the girl in the red coat is used to indicate that Schindler has changed: “Spielberg put a twist on her [Ligocka's] story, turning her into one more pile on the cart of corpses to be incinerated. The look on Schindler’s face is unmistakable. Minutes earlier, he saw the ash and soot of burning corpses piling up on his car as just an annoyance.”[13] Andre Caron wondered whether it was done “to symbolize innocence, hope or the red blood of the Jewish people being sacrificed in the horror of the Holocaust?”[14] Spielberg himself has explained that he only followed the novel, and his interpretation was that
- “America and Russia and England all knew about the Holocaust when it was happening, and yet we did nothing about it. We didn’t assign any of our forces to stopping the march toward death, the inexorable march toward death. It was a large bloodstain, primary red color on everyone’s radar, but no one did anything about it. And that’s why I wanted to bring the color red in.”[15]
The Making of the List
Pembuatan daftar, daftar yang dibuat Schindler dengan Ithzak Stern, seorang Yahudi, akuntannya, yang membantunya membuat “the list”, the list of life bagi 1100 orang Yahudi yang konon akan menjadi pekerja di pabriknya. Di akhir pembuatan daftar ini, ada sepenggal dialog mereka yang membuat saya sungguh tersentuh…
Oscar Schindler : That’s it. You can finish that page.
Itzhak Stern: What did Goeth say about this? You just told him how many people you needed, and – you’re not buying them. You’re buying them? You’re paying him for each of these names?
Schindler: If you were still working for me, I’d expect you to talk me out of it. It’s costing me a fortune. Finish the page and leave one space at the bottom.
Stern: The list is an absolute good. The list is life. All around its margins lies the gulf …
I could’ve got more … I could’ve got more, if I’d just … I could’ve got more …
Kalimat diatas adalah potongan dialog antara Schindler dengan Stern. Kasarnya, Schindler membeli orang-orang ini dari pihak NAZI dengan alasan mereka akan dijadikan pekerja di pabriknya yang memproduksi senjata bagi militer Jerman. Ia membayar untuk mereka. Di bagian akhir film, sebagai tanda terima kasih, para “pekerja” itu memberi cincin pada Schindler dan kemudian Schindler sontak menangis dan mengatakan hal berikut…
Oscar Schindler: I could’ve got more … I could’ve got more, if I’d just … I could’ve got more …
Itzhak Stern: Oscar, there are eleven hundred people who are alive because of you. Look at them.
Schindler: If I’d made more money … I threw away so much money, you have no idea. If I’d just …
Stern: There will be generations because of what you did.
Schindler: I didn’t do enough.
Stern: You did so much.Schindler: This car. Goeth would’ve bought this car. Why did I keep the car? Ten people, right there. Ten people, ten more people … This pin, two people. This is gold. Two more people. He would’ve given me two for it. At least one. He would’ve given me one. One more. One more person. A person, Stern. For this. I could’ve gotten one more person and I didn’t. I didn`t …..”
Bagian inilah yang membuat saya menangis. Betul-betul menangis.
Jujur saya tidak mampu berkata apapun sampai akhir film.
Yahh itulah sedikit cerita saya. Schindler’s List, sebuah karya fenomenal Steven Spielberg di tahun 1993. Jika ada yang belum menontonnya, yaah tidak ada salahnya mencari DVD nya. Terlalu sayang untuk tidak ditonton. Info tentang film ini, saya kutip dari Wikipedia.
| Directed by | Steven Spielberg |
|---|---|
| Produced by | Steven Spielberg Kathleen Kennedy Branko Lustig Gerald R. Molen Lew Rywin Irving Glovin Robert Raymond |
| Written by | Steven Zaillian Thomas Keneally (Novel) |
| Starring | Liam Neeson Ben Kingsley Ralph Fiennes Caroline Goodall Embeth Davidtz |
| Music by | John Williams |
| Cinematography | Janusz Kaminski |
| Editing by | Michael Kahn |
| Distributed by | Universal Pictures |
| Release date(s) | December 15, 1993 (USA) December 25, 1993 (Canada) February 10, 1994 (Australia) February 18, 1994 (UK) |
| Running time | 195 min |
| Country | |
| Language | English |
| Budget | $25,000,000 |
| Gross revenue | $321 million |
Ohh yaa, bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak, link ini boleh dicoba.
http://www.auschwitz.dk/Schindlerslist.htm
Until next post!
Tschuss!

















setuju ngga kalo dibilang spielberg itu slalu berusaha menonjolkan yahudi dan menjelek-jelekkan nazi jerman dlm porsi yg bener2x njomplang ? yg pernah bikin gue muak adalah adegan di pilem saving private ryan dimana tentara jerman digambarkan mau merendah2x di depan tentara amrik bahkan mencoba menyanyikan lagu kebangsaannya. Muak bener.
tp hrs diakui spielberg adalah sineas yg jempolan. Arah politiknya aja yg bikin gue ga sreg
Spielberg is a genius. And this movie here is a work of art!!! A master piece!!!
[...] Dan untuk film Schindler’s List, ini film tahun 1993 siih. Tapi DVD nya masih banyak beredar kok. Karena apa? Karena film ini spektakuler!!! Beneran!!! Lebay mode saya lagi off sekarang jadi saya nggak melebih-lebihkan sama sekali. Saya awalnya tertarik nonton film ini setelah baca postingan temen saya, Christine di sini. [...]
arah pandang dan framing dari sineas amerika ngga bisa dijauhkan dari semangat capitalism, bagaimanapun juga.
tapi untuk human interest dari film ini cukup kena
dan yang menjadi pertanyaanku sampe sekarang.kenapa film ini dulu sempet dilarang masuk ke indonesia? apakah karena negara ini tidak mau mengakui ke fasisannya?
@tigis: yah setiap orang punya cara pandang masing-masing dan punya hak untuk menunjukkannya. Dan itu yang dilakukan Spielberg. Mau sepaham ato gak, suka ato gak suka pada akhirnya kembali ke masing-masing individu yang ngeliatnya kan. Saya sih selama ini ok2 aja dengan karya2 Spielberg.
@iyut: boleh juga kan rekomendasi gue, yuth!
@kagendra: saya sendiri gak tahu kalo film ini sempat dilarang masuk ke negara kita. Hehe, tapi untunglah saya punya kesempatan buat nonton film ini.