are you ready to face the truth?
Hi there!
Wew, it’s been truly a while. I was just thinking that maybe I can hardly remember how to write, haha. In fact, fortunately my fingers are still magnificent on the keyboard. ;
I have been thru a lot. Well, just say for the whole 3 months since I decided not to write for a certain period which finally come to an end this morning. Geez, it’s 12.12 am, can’t believe I am still awake in this holidays, perhaps I got my insomnia back
Yes. I have been thru a lot.
Pertama, menjalani kehidupan semester 5 yang melelahkan!
22 sks.
8 mata kuliah yang kalo disebutin namnya pasti pada kabur (lebaaaay!).
4 praktikum yang akan segera menjadi 5 buah setelah Lebaran ini, yang mana berarti, setiap minggu harus membuat 5 buah laporan praktikum. A double to what it was last semester.
Wew, saya pikir tadinya ya, yang namanya ngambil 22 sks itu gampang, ternyata memang sangat membutuhkan extra-effort. Well, a real EXTRA! Padahal dosen wali saya dengan penuh perhatian sudah memperingatkan, “Yakin niih mau ngambil 23 sks (itu sebelum saya PRS, akhirnya ngambil 22), saya takut kamu gak bisa bagi waktu lo!?” kemudian si Christine yang tentunya sangat percaya diri ini berkata, “Akan saya coba, Pak. Saya yakin bisa!” dan beliau dengan arifnya menjawab “Baik, kalau kamu yakin, ya saya setuju.” Jujur, pada kenyataannya, saya sedikit (uups, memang!) berantakan di awal semester ini. I was working under pressure. Tekanan untuk menjadi sama baiknya, sama suksesnya seperti semester lalu. It wasn’t working at all. Kemudian saya sampai kepada pertanyaan, where’s the real you, Christine?? Akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus dapat mentransformasi tekanan itu menjadi motivasi. I’m on my way to it. Things are getting better.Thanks to my dear God, whose surely injected the thought to my grey-cells.
And at last, no matter how frustrating it would be, no matter how tiring it would be, Christine says: “I am ready to face the truth!”
Kedua, saya belajar untuk dewasa.
Selama ini saya merasa diri saya sudah sangat dewasa. Ternyata belum. Pahit ya, untuk mengetahui bahwa kita belumlah menjadi sesuatu yang kita pikir adalah. Saya betul menyadari bahwa yang bisa menilai seseorang terutama adalah orang lain. Apa dan bagaimana perasaan mereka terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan kita, haruslah menjadi masukan dan pembelajaran utama bagi kita dalam menjalani hidup. Dalam rentang waktu ini saya betul-betul disadarkan bahwa saya tidaklah selalu benar. Menyadari bahwa pada suatu titik kita salah dan ada orang lain yang dapat memperbaiki kesalahan kita, itu adalah salah satu refleksi kedewasaan. Dewasa adalah berarti dapat bersimpati dan berempati. Begitu banyak refleksi kedewasaan lainnya yang rasanya masih dapat saya pelajari. Bagi saya hidup adalah sekolah, sekolah yang akan membentuk diri kita, sekarang dan untuk masa yang akan datang sampai nafas kehidupan ini ditraik kembali dari raga kita. Pembelajaran dalam hidup adalah tidak tergantikan, dan satu-satunya (yaiyalah, kita kan hidup cuma satu kali!)
Ketika saya sungguh memasuki gerbang kedewasaan itu, saya kembali berkata pada diri saya bahwa saya siap untuk menghadapi kebenaran- kebenaran hidup ini.
Ketiga, saya kembali menyadari bahwa saya dikelilingi oleh cinta!
Love is everywhere, even I can feel it in the air I breath. Tidak perlu banyak kata untuk mendeskripsikan hal ini. Punya kesempatan untuk mencintai dan dicintai adalah hal terindah yang dapat dirasakan seseorang, termasuk saya. The greatest emotion that God ever created, for me, it is love. Saya punya keluarga dan teman-teman yang sungguh mencintai saya, dan saya rasa tidak ada ruginya untuk membalas cinta itu.
And for sure with all the love I have, I am ready to face the truth! ![]()
Saya ingin berbagi cerita sedikit. Kemarin malam saya merasa sedikit frustrasi di kosan. Entah dorongan apa yang membuat saya keluar rumah kemarin malam. Konyol, agaknya. Saya tiba-tiba teringat ada CD John Mayer yang pernah batal saya beli, dan kemudian kemarin malam saya punya keinginan kuat untuk segera memilikinya ( wong edaan!). Akhirnya, jadilah saya berkeliling Dago-Cihampelas dengan angkot di malam yang menusuk dinginnya. Yah, karena kemarin siang Bandung hujan deras jadilah malam harinya, dingin luar biasa. CD John Mayer-nya sih gak dapat, tapi saya malah mendapat pemikiran unik dalam perjalanan spontan saya malam itu. Pemikiran ini saya dapatkan di dalam angkot Caheum-Ciroyom menuju Cihampelas Walk. Pemikiran itu saya namakan “Teori Kacamata”.
Mata saya minus. Yang kanan – 1,75 dan yang kiri -1,5. Saya sudah tidak akan jelas melihat apapun dalam jarak lebih kurang 10 meter. Kebetulan kemarin malam saya tidak memakai kacamata saya. Dan sesungguhnya itu adalah hal yang akan saya lakukan jika saya sedang malas untuk berhadapan dengan sekitar saya. Dengan tidak memakai kacamata, anggapannya adalah dunia di luar radius 10 meter dari saya bukanlah bagian dari saya saat itu. Toh saya tidak bisa melihatnya dengan jelas, jadi anggap saja mereka tidak ada. Dengan kata lain, malam itu saya menyimpulkan bahwa, ketika saya malas memakai kacamata saya berarti saya sedang tidak siap berhadapan dengan kenyataan, dengan dunia luar. Entah karena mood saya sedang jelek, entah karena saya merasa tidak percaya diri, banyak alasan rupanya.
Berbeda halnya ketika saya begitu semangat dan sedang dalam mood yang sangat baik. Kacamata tidak akan lepas dari saya. Sederhana saja, saya ingin melihat dunia yang saya anggap indah ini dengan sejelas-jelasnya! Tanpa kekurangan apapun. Jika saya mengenakan kacamata saya, berarti saya siap untuk menerima segala sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Saya siap menghadapi kenyataan.
Ibaratkan mata minus sebagai kesalahan yang kita miliki. Kemudian kacamata adalah korektor, orang lain sebutlah yang berusaha membenahi kesalahan kita. Jika kita memilih untuk memakai kacamata maka dengan kata lain kita mengakui kesalahan kita dna bersedia dikoreksi untuk melihat kebenaran. Sementara kalau kita tetap keukeuh melihat apa adanya, artinya egoisme dan ketakutan kita telah membawa kita untuk menghidar dari kenyataan.
Saya jadi berpikir, sebenarnya tidak ada alasan bagi saya untuk menanggalkan kacamata saya. Karena toh sebenarnya itu akan membuat saya melihat segala sesuatu dengan lebih baik. Melihat keindahan seutuhnya, begitu pula keburukan.
Hehe, tapi nyatanya saya sering menanggalkannya, kebanyakan yah karena alasan teknis, seperti buru-buru sehingga lupa membersihkan, atau ketika merasa tidak nyaman, psst…. saya merasa paling tidak nyaman ketika harus makan dengan memakai kacamata! Haha, saya tidak tahu alasannya, hanya saja makan kurang nikmat jika harus bermata empat. Hahaha…
Gimana? Teori Kacamata saya ok gak??
Baiklah itulah cerita yang dapat saya bagikan saat ini. Postingan kali ini agak mellow ya?! Hehe, ya itu tadi I have been thru a lot. Tapi tetep kok, Christine ya Christine, si kuningtelorasin yang enak dinikmati. (ngareeep, hehehe
)
Akhirnya, silahkan pembaca kembali ke judul dari artikel ini dan jawablah pertanyaan itu.
Semoga bermanfaat.
Until next post!
Tschuss!













apapun yang terjadi kenyataan harus dihadapi, bukan dihindari, saya yakin mbak pasti bisa. ayo terra… terra..123
berarti dengan 22 sks kegiatan mbak di terra berkurang donk? secara aktivis terra gitu